Permasalahan Wilayah Pesisir dan Laut

Kota Surabaya yang terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa mempunyai posisi yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan, rekreasi dan konservasi. Di sisi lain, daerah pesisir mempunyai sisi negatif karena menjadi muara dari zat-zat buangan yang dibawa oleh aliran sungai. Zat buangan tersebut berasal dari limbah industri, limbah cair permukiman (sewage), limbah cair perkotaan (urban stormwater), pelayaran (shipping), pertanian dan perikanan budidaya. Dalam zat buangan tersebut mengandung berbagai bahan pencemar yang berupa sedimen, unsur hara (nutriens), logam beracun (toxic metals), pestisida, organisme eksotik, organisme pathogen, sampah dan oxygen depleting substances (bahan-bahan yang menyebabkan oksigen terlarut dalam air laut berkurang). Dampak yang timbul dengan dengan adanya berbagai bahan pencemaran tersebut adalah kerusakan ekosistem bakau, terumbu karang, kehidupan dari jenis-jenis biota (ikan, kerang, keong), terjadi abrasi, dan hilangnya benih bandeng dan udang.
Dengan mengkaji fenomena tersebut, perlu peraturan perundangan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan mempertahankan kelestarian ekosistem perairan pesisir. Contoh peraturan tersebut adalah mewajibkan perusahaan-perusahaan penghasil limbah untuk lebih dahulu men-treatment limbahnya sebelum dibuang ke saluran buangan kota yang bermuara di pesisir pantai dan laut. Masalah kerusakan daerah pesisir dan laut perlu segera ditangani, mengingat ketergantungan warga Surabaya terhadap sumber daya pesisir dan laut cukup besar untuk kelangsungan hidupnya, dimana fungsi kawasan pesisir dan laut adalah sebagai pelabuhan (transportasi), daerah rekreasi dan konservasi.
Guna menentukan sistem yang tepat bagi pengendalian dan pengelolaan kawasan ini, secara periodik perlu dilakukan pencataan kualitas air laut, apakah memenuhi baku mutu atau tidak. Dengan mengetahui status baku mutu kualitas air laut, dapat ditentukan tindakan yang tepat untuk penanganannya. Tahun 2008, Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya melakukan pengambilan beberapa titik sample air laut. Sampling tersebut dianalisis oleh balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular. Hasil analisisnya disajikan dalam tabel di bawah ini.

Sedangkan pada tahun 2009, pengambilan 6 sampel air laut di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan bahwa semua memenuhi baku mutu kualitas air laut guna kegiatan pelabuhan terutama dari uji biologi (fecal Coli dan total Cola), sedangkan pada uji kimia juga memenuhi persyaratan. Untuk parameter kekeruhan, semua lokasi titik pantau kondisi air laut tidak memenuhi syarat. Bisa disimpulkan bahwa kualitas air laut Kota Surabaya mengalami pencemaran ringan, sehingga perlu segera pemulihan terhadap kualitas air laut tersebut untuk dikembalikan kepada fungsi semula sebagai daerah rekreasi, konservasi, dan tranportasi.


Salah satu cara guna memulihkan kualitas air laut dan mengembalikan keseimbangan lingkungan wilayah pesisir dan laut adalah mencegah masuknya zat pencemar dan mempertahankan keseimbangan lingkungan wilayah pesisir dengan menanam mangrove di sepanjang pesisir. Selain menjaga keseimbangan lingkungan pesisir dan laut, keberadaan hutan mangrove juga berfungsi sebagai sarana rekreasi dan edukasi warga akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup di pesisir. Saat ini, keberadaan hutan mangrove di pantai Surabaya mulai digalakkan, misalnya di Bozem Wonorejo dan Gunung Anyar.