Pemanasan Global

Pemanasan global (global warming) menjadi isu lingkungan yang paling penting saat ini karena besarnya dampak yang ditimbulkan di seluruh wilayah bumi ini. Pemanasan global adalah proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan. Peningkatan suhu udara ini disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca, utamanya CO2 sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia, seperti transportasi, industri, penggunaan zat Freon (CFC) untuk berbagai keperluan, dan sebagainya. Secara umum, pemanasan global akan menyebabkan perubahan keseimbangan lingkungan seperti iklim yang tidak stabil, peningkatan permukaan air laut, kecenderungan meningkatnya suhu secara global, gangguan ekologis (baik terhadap manusia, hewan dan tumbuhan), dan dampak sosial ekonomi.
Melihat dampak yang begitu besar tersebut, perlu segera diambil langkah untuk mengendalikan atau memperkecil efek dari pemanasan global. Langkah yang paling menentukan adalah menghilangkan zat karbon dan mengurangi produksi gas rumah kaca lainnya. Cara menghilangkan karbon di udara yang paling mudah adalah dengan memperbanyak pepohonan (daerah hijau). Hal ini perlu segera dilakukan terutama di daerah perkotaan, termasuk di Kota Surabaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa zat karbon lebih banyak dihasilkan di daerah perkotaan dari pada di pedesaan, karena berbagai aktifitas kekotaan (transportasi, industri, dsb) merupakan pengguna bahan bakar fosil terbesar di mana hasil pembakarannya merupakan salah satu sumber penyumbang zat karbon. Masalah lain adalah penggunaan energi yang belum efisien serta energi alternatif belum dijajagi secara serius.
Karena pemanasan global merupakan masalah seluruh negara, maka telah dilakukan perjanjian antar Negara untuk bersama-sama mensukseskan pengurangan gas rumah kaca yang dikenal dengan Protokol Kyoto (1997) hingga perjanjian Stockholm (2009). Perjanjian ini menyerukan kepada negara industri yang memegang prosentase paling tinggi dalam melepaskan gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5% di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dicapai paling lambat tahun 2012. Kemudian pada tahun 1997, penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Hasilnya adalah sebuah rancangan sistem dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain, yang disebut perdagangan karbon.
Kota Surabaya sendiri telah melakukan berbagai langkah untuk ikut berpartisipasi dalam mengurangi dampak pemanasan global. Langkah-langkah tersebut adalah penghijauan secara intensif, pengelolaan sampah yang merupakan penghasil berbagai zat pencemar sebagai penyumbang gas rumah kaca, dan menerbitkan berbagai peraturan bagi industri dan rumah tangga untuk meminimalisir buangan zat pencemar ke lingkungan. Kini sedang dijajagi untuk beralih memakai sumber energi terbarukan untuk penerangan umum seperti penerangan di jalan kampung, penerangan umum (luar) kantor pemerintah kota dan sebagainya.